-
This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
-
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
-
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
-
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
-
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Beringin Kimeng (Ficus microcarpa)
Beringin Kimeng (Ficus microcarpa), juga dikenal sebagai beringin Cina, beringin Malaya , laurel India , ara tirai , atau gajumaru (ガ ジ ュ マ ル) , adalah pohon keluarga ara Moraceae . Ini asli dalam kisaran dari Cina melalui Asia tropis dan Kepulauan Caroline ke Australia. Tanaman ini banyak ditanam sebagai pohon peneduh dan sering salah diidentifikasikan sebagai F.retusa atau sebagai F. nitida ( F. benjamina ).
Artikel Terkait : Jenis - Jenis Beringin (Ficus)
Beringin (Ficus)
![](https://resources.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif)
Beringin (Ficus)
Beringin (Ficus benjamina dan beberapa jenis (genus) Ficus lain dari suku ara-araan atau Moraceae), yang disebut juga waringin atau (agak keliru) ara (ki ara, ki berarti “pohon”), dikenal sebagai tumbuhan pekarangan dan tumbuhan hias pot. Pemulia telah mengembangkan beringin berdaun loreng (variegata) yang populer sebagai tanaman hias ruangan. Beringin juga sering digunakan sebagai objek bonsai.
Beringin sangat akrab dengan budaya asli Indonesia. Tumbuhan berbentuk pohon besar ini sering kali dianggap suci dan melindungi penduduk setempat. Sesaji sering diberikan di bawah pohon beringin yang telah tua dan berukuran besar karena dianggap sebagai tempat kekuatan magis berkumpul. Beberapa orang menganggap tempat di sekitar pohon beringin adalah tempat yang “angker” dan perlu dijauhi.
Ada Bebarapa jenis tanaman Beringin (ficus) berdasarkan nama ilmiahnya yang banyak kita jumpai di sekitar kita di antaranya yaitu :
Baca Artikel : Jenis Tanaman Bonsai (Types Of Bonsai Plant)
Dai Bonsai
Dai Bonsai
Dai bonsai termasuk jenis bonsai yang memiliki ukuran besar dan memiliki karakter batang dan kelengkapan yang lainnya bisa di bilang detail.
Bonsai Dai ini bisa di klasifikasi bonsai yang mempunyai ukuran sangat besar dari semua jenis tanaman bonsai pada umunnya ataupun bisa disebut bonsai 4 tangan. Tetapi mereka mengambil lebih banyak ruang daripada bonsai rata-rata. Karena itu, mereka paling sering ditanam di kebun. Untuk mempertahankan bentuknya, mereka membutuhkan udara segar, dan terlihat sempurna di kebun
Dai Bonsai bisa di bilang jenis ukuran bonsai large (ukuran besar) - Tinggi hingga 40 inci (101 cm)
Artikel Terkait : Klasifikasi Bonsai (Bonsai size classifications)
Chu Bonsai
Chu Bonsai
Chui / Chumono bonsai termasuk jenis bonsai yang memiliki ukuran besar dan memiliki karakter batang dan kelengkapan yang lainnya bisa di bilang detail.
Bonsai Chui ini bisa di
klasifikasi bonsai yang mempunyai ukuran besar dari semua jenis tanaman bonsai
pada umunnya ataupun bisa disebut bonssai 2 tangan. Tetapi mereka mengambil lebih banyak ruang
daripada bonsai rata-rata. Karena itu, mereka paling sering ditanam di kebun.
Untuk mempertahankan bentuknya, mereka membutuhkan udara segar, dan terlihat
sempurna di kebun
Chu atau Chumono Bonsai bisa di bilang jenis ukuran bonsai large (ukuran besar) - Tinggi hingga 24 inci (61 cm)
Kifu Sho Bonsai
Kifu Sho Bonsai
Bonsai Kifu Sho termasuk jenis bonsai yang memiliki ukuran tidak terlalu besar dan
tidak terlalu kecil akan tapi bisa secara akurat dan membawa pengaruh yang
besar karena dari karakter batang dan kelengkapan yang lainnya bisa di bilang
lebih detail.
Bonsai Kifu Sho ini bisa di klasifikasi menjadi bonsai yang mempunyai penggemar sekitar 600% dari semua jenis tanaman bonsai. Perbedaannya dari Bonsai Shohin dan Bonsai Mame selain dilihat dari segi ukurannya jenis atau type bonsai ini dapat dibedakan dar jenis perawatannya. Di karenakan bonsai jenis ini menggunakn Pot kecil, teknik penyiraman dan pemupukan yang teratur apabila di perlukan. Perbedaan lain dapat ditemukan dalam jumlah detail yang digambarkan oleh pepohonan. Pohon asli memiliki ribuan daun dan cabang, tetapi seiring dengan berkurangnya ukuran saat ini banyak yang membuat bonsai mini, shohin bonsai atau mame bonsai
Khifuso Bonsai bisa di bilang
jenis ukuran bonsai mini seperti Bonsai Mame & Shohin Bonsai yang
mempunyai ketinggian hingga 8 inci (20 cm)
Artikel Terkait : Klasifikasi Bonsai (Bonsai size classifications)
Shohin Bonsai
Shohin Bonsai
Bonsai Shohin termasuk jenis bonsai yang memiliki ukuran tidak kecil tapi bisa
secara akurat disebut sebagai bonsai miniatur sama seperti Bonsai Mame. Sementara ini ada beberapa orang secara keliru dan
salah presepsi banyak sekali menyebut semua bonsai mame kecil
atau mempunyai ukuran kecil, secara klasifikasi sebenarnya bonsai shohin ini
memiliki tinggi hingga 8 inch.
Bonsai Shohin ini bisa di klasifikasi menjadi bonsai yang memiliki ukuran bonsai yang paling populer. Yang merupakan mempunyai penggemar sekitar 80% dari semua jenis tanaman bonsai. Perbedaannya dari Bonsai Shohin dan Bonsai Mame selain dilihat dari segi ukurannya jenis atau tupe bonsai ini dapat dibedakan darai cara perawatannya. Di karenakan bonsai jenis ini menggunakn Pot kecil, teknik penyiraman dan pemupukan yang teratur apabila di perlukan. Perbedaan lain dapat ditemukan dalam jumlah detail yang digambarkan oleh pepohonan. Pohon asli memiliki ribuan daun dan cabang, tetapi seiring dengan berkurangnya ukuran, sampai ke pohon Mame yang mungil, detail cenderung berkurang juga. Oleh karena itu, Shohin dan khususnya Mame dapat dianggap lebih idealis.
Shohin Bonsai bisa di bilang
jenis ukuran bonsai mini seperti Bonsai Mame - yang mempunyai
ketinggian hingga 8 inci (20 cm)
Artikel Terkait : Klasifikasi Bonsai (Bonsai size classifications)
Mame Bonsai
Mame Bonsai
Bonsai Mame memang tidak kecil tapi bisa secara akurat disebut sebagai bonsai miniatur. Sementara ini ada beberapa orang secara keliru dan salah presepsi banyak sekali menyebut semua bonsai mame kecil atau mempunyai ukuran kecil, sebenarnya bonaai mame memiliki tinggi antara 3 dan 6 inci.
Mame Bonsai bisa di bilang jenis ukuran bonsai mini - Tinggi hingga 6 inci (15 cm)
Artikel Terkait : Klasifikasi Bonsai (Bonsai size classifications)
Shito Bonsai
Shito Bonsai
Bonsai Shito memang bagus, tetapi biasanya sebenarnya tidak layak untuk disimpan dalam jangka panjang. Bonsai Shito banyak diminati dan banyak didibuat hanya untuk hiasan meja kantor / meja kerja. Bonsai Shito hampir selalu hanya ditampilkan untuk pertunjukan tertentu, bonsai jenis ini hanya ditanam menjadi pohon berukuran kecil agar suasana terlihat lebih lestari.
Shito Bonsai bisa di bilang jenis ukuran bonsai kecil (ukuran kecil) - Tinggi hingga 3 inci (7 cm)
Artikel Terkait : Klasifikasi Bonsai (Bonsai size classifications)
Keishi Bonsai
Keishi Bonsai
Keishi Bonsai adalah klasifikasi tanaman bonsai yang mempunyai ukuran paling terkecil. Secara harfiah untuk ukuran Keishe bonsai memunyai arti bahwa ukuran bonsai sebesar “jempol Kaki”. Bonsai yang memunyai ukuran seperti ini sangat langka bahkan sangat susah dalam hal pembuatan ataupun perwatannya dan jarang sekali dan sari data yang di kumpulkan klasifikasi jenis ini susah dipertahankan kehiduannya dalam jangka waktu yang lama atau panjang
Keishi Bonsai bisa di bilang jenis ukuran bonsa yang terkecil (ukuran ibu jari) - Tinggi hingga 1 inci (2,5 cm)
Artikel Terkait : Klasifikasi Bonsai (Bonsai size classifications)
Klasifikasi Bonsai (Bonsai size classifications)
![](https://resources.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif)
Klasifikasi Bonsai (Bonsai size classifications)
Tujuan akhir dari Bonsai adalah untuk menciptakan penggambaran alam yang realistis dalam bentuk minimalis. Ketika Bonsai semakin kecil (bahkan sampai beberapa inci / sentimeter) semakin menjadi abstrak, berlawanan dengan menyerupai pohon yang berada dialam dengan cara yang lebih tepat. Beberapa klasifikasi bonsai telah dikemukakan, dan meskipun klasifikasi ukuran pastinya diperdebatkan, mereka membantu untuk mendapatkan pemahaman tentang aspek estetika dan botani yang sesuai dari Bonsai. Klasifikasi awalnya didasarkan pada jumlah orang yang dibutuhkan untuk mengangkat pohon yang sebenarnya.
Klasifikasi ukuran, bertambah
besar
- Keishi Bonsai: < 1 Inch (2.5 cm)
- Shito Bonsai: < 3″ (7.5 cm)
- Mame Bonsai: < 6″ (15 cm)
- Shohin Bonsai: < 8″ (20 cm)
- Kifu Sho Bonsai: < 16″ (40.5 cm)
- Chu Bonsai: < 24″ (61 cm)
- Dai Bonsai: < 40″ (101.5 cm)
Arti bonsai
Kita sekarang tahu
terjemahan literal dari Bonsai adalah "pohon dalam pot", tetapi apa
arti dari pohon Bonsai? Pohon Bonsai merupakan replika alam berupa miniatur
pohon tanpa memperlihatkan campur tangan manusia secara terlalu jelas.
Bentuk atau corak yang umum seperti pohon (meskipun tidak selalu alami untuk jenis tanaman yang tumbuh berukuran penuh di alam liar).
Profil yang tidak sedetail
pohon nyata secara fotografis tetapi memiliki fitur yang cukup untuk
menyarankan pohon dewasa dengan mudah.
Relatif kecil, dibandingkan
dengan jenis pohon yang sama di luar wadah, untuk kemudahan transportasi dan
kemampuan untuk tetap dekat.
Rasa kealamian yang secara
halus ditonjolkan oleh campur tangan manusia tetapi tidak dirusak oleh bukti
nyata interaksi manusia.
Representasi tertentu dari
sesuatu yang jauh lebih dari dirinya sendiri, dan dengan demikian memungkinkan
setiap penonton untuk menafsirkan apa yang ditampilkan dan membangunnya
berdasarkan pengalaman dan ingatannya sendiri.
Sesuatu yang begitu berharga
sehingga telah menerima perawatan hampir setiap hari dari [semoga panjang]
kehidupannya yang terkemas.
Sesuatu yang dijunjung tinggi
sehingga diizinkan untuk sementara waktu dibawa masuk ke dalam rumah bagi para
tamu terhormat meskipun itu berisi tanah dari kebun.
Sebuah oasis portabel dan
taman miniatur yang dapat diangkut yang dapat mewakili musim dan lanskap luas
atau favorit di dekat Anda untuk meditasi atau bantuan kontemplasi.
Karakteristik Tanaman Bonsai (Characteristics of Bonsai Plants)
Karakteristik Tanaman Bonsai (Characteristics of Bonsai Plants)
JENIS TANAMAN YANG BISA DIBONSAI
Umumnya, tanaman yang akan dibonsai
harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Tanaman Dikotil
Tanaman dikotil atau berkeping dua
umumnya berbentuk pohon yang keras dan berekambium. Jenis tanaman inilah yang
paling ideal dijadikan bonsai. Tanaman jenis monokotil (seperti jenis kelapa
dan bamboo) bisa juga dikerdilkan, tetapi disebut dengan bonsai sejati.
Demikian juga dengan jenis semak dan perdu. Meskipun bisa dikerdilkan, tidak
bisa dijadikan bonsai sejati.
b. Berumur Panjang
Idealnya, bonsai dibuat dari tanaman
yang berumur panjang. Pasalnya, bonsai merupakan seni yang harus terus tumbuh,
sehingga memerlukan tanaman yang biasa bertahan hidup puluhan, bahkan ratusan
tahun.
c. Tahan Hidup Menderita
Tanaman yang akan dibonsai sebaiknya
tahan hujan dan panas. Selain itu, juga tahan terhadap kondisi wadah yang
sempit dan terbatas. Sebagai bonsai, tanaman harus biasa hidup terus meskipun
jumlah makanan atau nutrisinya sedikit dengan perkembangan akar dan batang yang
seadanya.
d. Bentuknya Indah Secara Alami
Secara alami, pohon yang akan dibonsai harus sudah memiliki daya tarik atau
keindahan, baik daun, batang, akar, bunga, maupun buahnya. Keindahan tersebut
akan semakin menonjol dan proporsional setelah mendapatkan perlakuan sesuai
dengan tata cara pembonsaian yang benar.
e. Tahan Mendapat Perlakuan
Untuk mendapatkan bonsai yang sempurna,
pohon atau bakalan bonsai perlu diperlakukan dengan teknik-teknik tertentu
(detraining). Perlakuan seperti sebenarnya merupakan bentuk penyiksaan terhadap
tanaman. Biasanya, tanaman yang tidak tahan akan mati. Karenanya, tanaman harus
tahan dipahat, dikawat, dan juga dipangkas setiap saat.
Sejarah Bonsai di Barat (History of Bonsai in The West)
![]() |
Frenchman enjoy a Bonsai 1900 |
Sejarah Bonsai di Barat (History of Bonsai in The West)
Pada 1604, para imigran China di pulau tropis Filipina menanam pohon beringin (ficus) kecil di atas pot. Di China / Makau pada tahun 1637 membawa bonsai ke Jepang dengan spesimen root-over-rock. Banyak di antaranya pohon kerdil Jepang mulai mengadakan Pameran di Philadelphia pada tahun 1876, Pameran Paris tahun 1878 dan 1889, Pameran Chicago tahun 1893, Pameran Dunia St. Louis tahun 1904, Pameran Jepang-Inggris tahun 1910, dan Pameran San Francisco tahun 1915.
Buku berbahasa Eropa pertama (Prancis) yang membahas tentang pohon kerdil asal Jepang ini diterbitkan pada tahun 1902, dan yang pertama dalam bahasa Inggris pada tahun 1940. Bonsai Lanscape dan Pohon Miniatur Yoshimura dan Halford diterbitkan pada tahun 1957. John Naka dari California memperluas berbagi ini dengan mengajar secara langsung dan dalam cetakan pertama di Amerika, dan kemudian di seluruh dunia lebih jauh menekankan penggunaan materi asli.
Pada saat inilah Barat diperkenalkan dengan pemandangan dari Jepang yang dikenal sebagai saikei dan kebangkitan dari Tiongkok sebagai Penjing.
Sejarah Bonsai di Jepang (History of Bonsai in Japan)
Sejarah Bonsai di Jepang (History of Bonsai in Japan)
Sejarah Bonsai di Jepang menyakini bahwa tanaman bonsai pertama dibawa dari Cina ke Jepang sekitar 200 tahun lalu sebagai suvenir religius. 1000 tahun yang lalu, sebuah karya fiksi dalam bahasa Jepang memasukkan bahwa: “Pohon ukuran aslinya yang dibiarkan tumbuh dalam keadaan aslinya adalah hal yang wajar. Hanya saja jika disimpan dekat dengan manusia akan mendapatkan bentuk dan gayanya sesuai dengan kemampuan untuk bergerak.
Sebuah cerita rakyat dari akhir 1300-an, tentang seorang samurai miskin yang mengorbankan tiga pohon pot kerdil terakhirnya untuk memberikan kehangatan bagi seorang biksu yang bepergian pada malam musim dingin yang dingin menggambarkan pohon dalam bentuk dan dengan media termasuk dudukn dari balok kayu selama berabad-abad.
![]() |
At the second Kokufu Bonsai Ten, December
1934
Untuk ukuran dan gaya yang dikembangkan selama berabad abad. Pohon kerdil yang mereka buat disebut "Bonsai" dalam pengucapan Jepang dari istilah Cina pun-tsai untuk membedakannya dari hachi-no-ki. Bon atau pena yaitu istilah kata dari mangkuk Hachi. Ini menunjukkan bahwa setidaknya beberapa penanam lebih berhasil dengan kebutuhan hortikultura pohon pot kerdil dalam wadah yang lebih kecil.
Sejarah Bonsai di China (History of Bonsai in China)
Sejarah Bonsai di China (History of Bonsai in China)
Sejarah Bonsai di China dikenal sejak sekitar 5.000 tahun yang lalu. Seribu tahun kemudian selama Zaman Perunggu China menciptakan kembali bonsai berbentuk gunung, misalnya, dalam skala yang diperkecil yang di sebut "penjing" yang terbuat dari batu mungkin telah ditemukan dengan lumut atau lumut yang sudah menempel - miniatur lanskap alam.
Ide tentang Replika dalam miniatur sudah ada sejak 2300 tahun lalu di Tiongkok - China
![]() |
Miniature landscape from
Gothaer Penjing Album, Canton, c.1800, for export to Europe |
Dari
sekitar tahun 706 Masehi muncul lukisan makam Putra Mahkota Zhang Huai yang
mencakup penggambaran dua dayang yang sedang menunggu menawarkan lanskap
bebatuan miniatur dengan tanaman kecil di piring dangkal. Pada saat ini sudah
ada deskripsi tertulis paling awal karena penciptaan dan perawatannya sudah agak maju, pematangan seni telah
terjadi .
Pohon yang paling awal digunakan diyakini sebagai spesimen berbentuk seperti di alam liar. Ini adalah "sakral" sebagai lawan "profan" karena pohon tidak dapat digunakan untuk tujuan praktis dan biasa seperti kayu. Bentuk pohon jenis ini mengingatkan pada postur tipe yoga yang berulang kali membungkuk ke belakang, dan berumur panjang.
Selama berabad-abad, gaya bentuk pohon ini berbeda dan dikembangkan di seluruh negara besar dengan banyak variasi bentang alam dengan pot berbentuk gerabah ataupun keramik yang dipajang di dudukan kayu dan untuk membentuk pohon dengan kerangka bambu atau kawat kuningan atau strip timah. Banyak pebonsai yang mengdeskripsikan tentang miniatur lanskap pohon dan / atau pegunungan, dan banyak pebonsai memasukkan pohon pot kerdil sebagai simbol gaya hidup pria yang dibudidayakan. Setelah abad ke-16, hal ini disebut pun tsai atau "penanaman nampan". Istilah pun Ching "lanskap baki," sekarang disebut Penjing tidak benar-benar digunakan sampai abad ke-17.
Sejarah Bonsai (History of Bonsai)
Sejarah Bonsai (History of Bonsai)
Bonsai (盆栽) adalah tanaman atau pohon yang dikerdilkan di dalam pot dangkal dengan tujuan membuat miniatur dari bentuk asli pohon besar yang sudah tua di alam bebas. Penanaman (sai, 栽) dilakukan di pot dangkal yang disebut bon (盆). Istilah bonsai juga dipakai untuk seni tradisional Jepang dalam pemeliharaan tanaman atau pohon yang ditanam didalam pot dangkal, dan apresiasi keindahan bentuk dahan, daun, batang, dan akar pohon, serta pot dangkal yang menjadi wadah, atau keseluruhan bentuk tanaman atau pohon.
Seni bonsai ini
mencakup berbagai teknik pemotongan dan pemangkasan tanaman,
pengawatan (pembentukan cabang dan dahan pohon dengan melilitkan kawat atau
membengkokkannya dengan ikatan kawat), serta membuat akar menyebar. Pembuatan bonsai memakan
waktu yang lama dan melibatkan berbagai macam pekerjaan, antara lain pemberian pupuk, pemangkasan, pembentukan
tanaman, penyiraman, dan penggantian pot dan tanah. Tanaman atau pohon
dikerdilkan dengan cara memotong akar dan rantingnya.
Meskipun kata 'Bon-sai' adalah bahasa Jepang, seni yang dideskripsikannya berasal dari kekaisaran China. Pada tahun 700 M, orang China telah memulai seni 'pun-sai' dengan menggunakan teknik khusus untuk menanam pohon kerdil dalam wadah.
Awalnya hanya kalangan elit masyarakat yang mempraktikkan pun-tsai dengan spesimen yang dikumpulkan asli dan pepohonan yang tersebar di seluruh China sebagai hadiah mewah. Selama periode Kamakura, periode di mana Jepang mengadopsi sebagian besar merek dagang budaya Tiongkok, seni menanam pohon dalam wadah diperkenalkan ke Jepang. Bonsai yang dikembangkan Jepang di sepanjang garis tertentu karena pengaruh Buddhisme Zen dan fakta bahwa Jepang hanya berukuran 4% dari daratan China. Kisaran bentuk lanskap dengan demikian jauh lebih terbatas.